Assalamualaikum Wr. Wb.
Hai kawan, sadarkah kalian jika saling menghargai adalah hal
yang telah diajarkan sejak dulu bahkan mungkin hingga sekarang. Namun, apakah
kalian sudah menghargai orang yang tepat? Apakah kalian sudah mendahulukan
menghargai orang yang memang pantas dihargai? Apa yang kalian pikirkan tentang menghargai? Haruskah ini
menyangkut cinta dengan pasangan? Atau menghargai teman? Guru? Keluarga? Yang mana
yang harus didahulukan?
Ya, saya yakin jawaban kalian adalah keluarga, terutama
orang tua. Tentunya kalian sudah tahu apa itu definisi orang tua, seperti
kebanyakan artikel pada umumnya yang selalu mengatakan bahwa orang tua adalah
segalanya. Mereka mengurus, mendidik dan membesarkan kita sampai detik ini.
Kebanyakan artikel yang membahas tentang seorang ibu, namun
kali ini saya akan membahas mengenai menghargai kasih sayang seorang ayah. Ya ayahmu,
ayah memang bukan yang melahirkan kamu. Ayah memang bukan yang menyusuimu dan
bersamamu setiap saat. Kamu tau mengapa ayah tidak bisa berada disampingmu
seperti ibumu? Apakah kamu pernah bertanya kepadanya? Atau bahkan memikirkan
pertanyaan itu?
Kawan, dia tak berada disisimu setiap saat, bukan karena dia
tak menginginkannya. Apakah kalian tahu? Dia menahan rasa ingin bersamamu karena dia harus menafkahi keluarga ini. Karena
dia tau, tidak ada yang bisa mencari nafkah selain dia. Karena dia tahu, banyak
kebutuhan yang harus dia penuhi hari ini, bulan ini, tahun ini. Dia tahu semua
yang kamu butuhkan, dia bukan orang yang pelit sperti yang ada dalam benakmu. Dia
tak memberikan sejumlah uang atau barang yang kau minta karena dia tahu, masih
banyak kebutuhan yang jauh lebih penting daripada uang dan barang yang kau
minta itu.
Kau pulang kerumah dengan keadaan letih, lalu ayahmu
bertanya padamu “Bagaimana sekolahmu hari ini?” atau “Bagaimana dikampus nak? Menyenangkan?”
dan kau hanya menjawab “seperti biasa yah, menyenangkan kok” lalu kamu masuk
kamar dan melewatinya begitu saja. Apakah kalian tahu? Yang dia ingin dengar
bukan itu. Dia ingin mendengar ceritamu, sama halnya seperti yang kau ceritakan
pada ibumu ! Dia hanya ingin tahu berapa banyak masalah dan kesenangan yang
kamu dapat selama kamu berada jauh dari rumah. Dia hanya ingin tahu perasaanmu
yang sesungguhnya agar dia bisa memberi sedikit nasihat dan hubungan baik
layaknya seorang ayah dan anak. Setidaknya, dia mengetahui perkembanganmu
walaupun dia tak selalu bersamamu.
Pernahkah kamu menghargai setiap tetes keringatnya yang
telah berjuang dengan sekuat tenaga untuk membesarkanmu hingga saat ini. Pernahkah
kamu membawakan ayahmu segelai air ketika dia pulang? Pernahkah kamu
menyambutnya dengan baik ketika dia baru saja berhenti sejenak dari
aktivitasnya? Pernakah kamu mencium tangannya dengan tulus dan berkata “ayah,
aku mencintaimu. Ayah, aku sangat berterimakasih atas apa yang kau lakukan hari
ini untukku.” Saya yakin itu tidak pernah kalian lakukan. Mungkin ada beberapa
dari kalian yang pernah melakukannya. Namun, apakah hal itu dilakukan setiap
hari? Saya rasa tidak.
Kawan, perbaikilah sikapmu terhadap ayahmu mulai dari
sekarang . kawaann... sebelum semuanya terlambat.. bagaimana jika ketika kamu
pulang ayahmu sudah terbalut rapi dengan kain kafan? Bagaimana jika itu
terjadi? Akankah kalian menyadari betapa berartinya seorang AYAH ketika dia tak
ada? Haruskah hal itu terjadi agar menyadarkan kalian betapa buruknya sikap
kalian terhadap seorang ayah?
Kawaann.. sebelum matanya tertutup, sebelum raganya tak bisa
lagi kau sentuh, sebelum mulutnya membisu selama-lamanya, sebelum kau tak bisa
lagi mencium dan memeluknya. Berubahlah kawan.. sebelum itu terjadi. Renungkanlah
sikap kalian terhadap ayah kalian. Hargailah dia, seperti layaknya seorang anak
terhadap ayah. Jauh dilubuk hatinya, dia sangat mencintaimu melebihi ibumu.
Mulai saat ini, ketika kamu pulang dan ayahmu menyapa
padamu, balaslah ucapannya dengan baik. Ciumlah tangannya, genggam tangannya,
peluk erat tubuhnya dan katakanlah “ ayah, aku sangat senang menjadi anakmu. Aku
sangat bangga padamu. Aku sayang padamu ayah. Maafkan aku atas sikapku selama
ini, terimakasih ayah, engkau telah mendidik dan membesarkanku hingga saat ini”.
Masih ada gengsi untuk melakukan itu setelah membaca artikel
ini? Masih ada rasa ragu untuk melakukannya? Jika iya. Semoga Allah SWT. meluluhkan
hati kalian, memberi kalian hidayah agar kalian tidak dikategorikan sebagai
anak durhaka. Amiin.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Penulis: Melati Rafianti Wiratma
Gambar: http://blogfyna.com/saya-sayang-ayah/
Gambar: http://blogfyna.com/saya-sayang-ayah/
0 komentar:
Posting Komentar
Komentar bijak datang dari orang yang cerdas (^_^)